http://www.sman1pramb-yog.sch.id/

 

MATERI AJAR

Sekolah : SMAN 1 Prambanan

Mata Pelajaran : Seni Musik

Kelas / Program : XI / IPA – IPS

Semester : I (Satu)

 

 

Standar Kompetensi : 1. Mengapresiasi Karya Seni Musik.

Kompetensi Dasar : 1.1. Mengidentifikasi makna dan peranan musik tradisional Nusantara dalam konteks kehidupan budaya masyarakat.

- Mengidentifikasi karya musik tradisional Nusantara.

- Mendeskripsikan makna musik tradisional Nusantara dalam konteks kehidupan budaya masyarakatnya.

- Mendeskripsikan peranan musik tradisional Nusantara dalam konteks kehidupan budaya masyarakatnya.

1.2. Menunjukkan nilai-nilai dari pengalaman musikal yang terkandung pada musik tradisional Nusantara.

- Mendeskripsikan karakteristik keunikan karya musik Tradisional Nusantara.

- Mendeskripsikan jenis–jenis alat musik Tradisional Nusantara.

­ - Mendeskripsikan isi lagu tradisional Nusantara kedalam bahasa Indonesia.

2. Mengekspresikan diri melalui karya seni musik

2.1. Mengembangkan gagasan kreatif serta mengaransir/ merancang karya musik dengan menggali beragam teknik, prosedur, media, dan materi musik/lagu tradisional Nusantara.

- Mendeskripsikan teknik mengaransir / merancang karya musik Tradisional Nusantara.

- Menjelaskan prosedur dan materi yang digunakan.

- Menunjukkan sikap menghargai karya seni sendiri dan kelompok.

2.2. Menampilkan karya musik yang telah diaransir di kelas.

- Mendeskripsikan bentuk-bentuk penampilan musik.

- Mendeskripsikan teknik-teknik penampilan musik vocal hasil aransir.

- Mendeskripsikan teknik-teknik penampilan musik instrumental hasil aransir.

- Mendemonstrasikan musik vokal dan instrumental dengan teknik yang benar.

 

 

Mengetahui / Menyetujui,

 

Prambanan,

Kepala Sekolah

SMAN 1 Prambanan

 

 

 

 

Drs Mawardi H.

NIP. 130835675

 

 

 

Guru Bidang Studi,

 

 

 

 

Alfian Nur Rahman

 

Email: gitar_alfian@yahoo.co.id

 

 

 

I. MUSIK TRADISIONAL NUSANTARA

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki alat-alat musik dan budaya yang beraneka ragam yang disebut musik daerah. Musik daerah adalah musik yang lahir dari budaya daerah dan diwariskan secara turun temurun yang secara umum disebut musik tradisional. Oleh karena itu alat musik maupun lagunya menjadi sifat unsur kesederhanaan dan kedaerahan.

Alat musik tradisional Nusantara dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis sesuai dengan fungsi pengelompokannya, antara lain:

·         Chordophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari dawai. Contoh: Sasando, Siter/Rebab, Celempung, dll.

·         Aerophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari udara yang di tiup. Contoh: Seruling, Kledi, dll.

·         Membranophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari kulit membran. Contoh: Kendang, Ketipung, dll

·         Idiophone : Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri. Contoh: Gong, Saron, Bonang dll

Berikut ini beberapa nama-nama alat musik tradisional beserta lagu daerah khas adat kebudayaan Nusantara sesuai dengan daerahnya:

a. Propinsi Sumatera Utara / Sumut

Alat Musik Tradisional : Arumba, Doli-doli, Druri dana, Faritia, Garantung, Gonrang, Hapetan,

Lagu Daerah : Say Selamat Masineger, Leleng Ma Hupaima Ima, Dago Inang Sarge, Madedek Magambiri, Meriam Tomong, Sigulempong, Rambadia, Sinanggar Tulo, Piso Surit, dll.

b. Propinsi Sumatera Barat / Sumbar

Alat Musik Tradisional : Saluang, Talempong Pacik

Lagu Daerah : Keparak Tingga, Kambanglah Bungo, Tari Payung, Rang Talu, Lah Laruik Sanjo, Seringgit Dua Kupang, Bareh Solok, Kampuang Nan Jauh Dimato, Malam Baiko, Dayuang Palinggam, Gelang Sipaku Gelang, Tak Tong Tong.

c. Propinsi Jawa Barat / Jabar

Alat Musik Tradisional : Arumba, Calung, Dod-dog, Gamelan Sunda, Angklung, Rebab.

Lagu Daerah : Cing Cang Keling, Sapu Nyere Pegat Simpai, Tokecang, Es Lilin, Pepeling, Nenun, Manuk Dadali, Bubuy Bulan.

d. Propinsi Jawa Tengah / Jateng dan DI Yogyakarta

Alat Musik Tradisional : Gamelan Jawa, Siter / Celempung

Lagu Daerah : Gundul pacul, Suwe Ora jamu, Tekate Dipanah, Gek ke Piye, Lir Ilir, Gambang Suling, Pitik tukung.

e. Propinsi Bali

Alat Musik Tradisional : Gamelan Bali

Lagu Daerah : Putri ayu, Ngusak Asik, Janger, Macepet Cepetan, Tari Bali, Meyong-Meyong

f. Propinsi Nusa Tenggara Barat / NTB dan Nusa Tenggara Timur / NTT

Alat Musik Tradisional : Cungklik, Foi Mere, Sasando, Keloko

Lagu Daerah : Pai Mura Rame, Desaku, Tutu Koda, Helele U Ala de Teang, Potong bebek, Anak Kambing Saya, O Nina Noi, Lereng Wutun, Bole Lebo, O Re Re, Tebe Ona Na.

g. Propinsi Kalimantan Selatan / Kalsel

Alat Musik Tradisional : Babun

Lagu Daerah : Ampar-Ampar pisang, Sapu Tangan Babuncu Ampat, Tumpi Wayu, Palu Lempang Pupoi, Cik Cik Periok.

h. Propinsi Sulawesi Selatan / Sulsel

Alat Musik Tradisional : Alosu, Anak Becing, Basi-Basi, Popondi, Keso-Keso, Lembang

Lagu Daerah : Tondok Kadadiangku, Marencong Rencong, Pakarena, Angin Mamiri, Anak Kukang.

i. Propinsi Maluku

Alat Musik Tradisional : Floit, Nafiri, Totobuang, Tifa

Lagu Daerah : Hela Rotan, Burung Kakatua, Sarinande, Ayo mama, Rasa Sayange, Naik-Naik Kepuncak Gunung, Nona Manis Siapa Yang Punya, Waktu Hujan Sore-Sore, Lembe-Lembe, Gunung Salahutu, Burung Tantina.

j. Propinsi Irian Jaya / Papua

Alat Musik Tradisional : Atowo, Tifa, Fu

Lagu Daerah : Yamko Rambe Yamko, Apuse.

Lain-Lain :

- Gerdek berasal dari daerah Dayak Kalimantan

- Kere-kere galang berasal dari daerah Goa

- Kinu berasal dari daerah Pulau Roti

- Kolintang berasal dari daerah Minahasa

- Sampek berasal dari daerah Dayak Kalimantan

- Talindo berasal dari daerah Sulawesi

- Kecapi berasal dari daerah Seluruh Nusantara Umumnya di Jawa

- Kledi berasal dari daerah Kalimantan

- Serunai berasal dari daerah Sumatera

 

Catatan : Data ini berdasarkan jaman Indonesia masih 27 propinsi dengan provinsi terakhir masih timor timur. Timor timur kini sudah terpisah dari NKRI menjadi negara baru yang berdaulat dengan nama Timor Leste.

Musik Gamelan :

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Musik gamelan juga disebut sebagai musik heterofon karena memiliki pola ritme yang kaya. Para pemain gamelan disebut Niyaga, Penyanyi nya disebut Sinden Waranggana, dan lagu yang di mainkan disebut Gendhing.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

Dari catatan sejarah, tangga nada sléndro lebih tua daripada tangga nada pélog. Tangga nada sléndro diperkenalkan pada Dinasti Syailendra sekitar abad 8 M. Menurut cerita, tangga nada sléndro ditemukan oleh Dewa Batara Endra atas petunjuk Dewa Shiva. Sedangkan pélog, Menurut Ronggo Warsito diciptakan oleh Prabu Banjaran Sari alias Panji Hino Kartopati alias Joyoboyo pada tahun 1519 M.

Laras sléndro, kadangkala dieja sebagai saléndro, dalam gamelan disebut Pentatonik enharmonis karena terdiri 5 nada dalam satu oktaf (gembyangan). Sruti (interval) setiap nadanya diberi satuan centimeter suara atau sering disebut cent. Sruti-sruti nadanya adalah 240 cent. Sedangkan untuk interval sempurna keempatnya yang lebih sempit, sekitar 480 cent, berbeda dengan interval pelog yang lebih lebar. Kelima nada pada laras sléndro adalah sebagai berikut:

Simbol

Nama Nada

Dibaca

1

2

3

5

6

1

Barang

Gulu

Dhadha

Lima

Nem

Barang Alit

Ji

Ro

Lu

Ma

Nem

Ji

 

Laras pélog sendiri memiliki tujuh nada dalam satu gembyangan (oktaf) dan disebut Heptatonis, tetapi biasanya suatu komposisi akan ditulis dalam 5 nada. Skala pelog dapat dibuat dengan cara merangkaikan interval sempurna keempat dengan sruti yang cukup lebar, sekitar 515 sampai 535 cent. Ketujuh nada tersebut dituliskan sebagai berikut:

Simbol

Nama Nada

Dibaca

1

2

3

4

5

6

7

Panunggul/bem

Gulu

Dhadha

Pelog

Lima

Nem

Barang

Ji

Ro

Lu

Pat

Ma

Nem

Pi

 

Kedua laras dalam gamelan Jawa tersebut jika dituliskan secara tangga nada diatonis adalah sebagai berikut:

Nama Laras

Secara Tangga Nada Diatonis

Sléndro

1=do

2=re

3=mi

5=sol

6=la

1=do

Pélog

1=do

3=mi

4=fa

5=sol

7=si

1=do

Contoh lagu tradisional umum yang menggunakan laras Sléndro dan Pélog; Gundul Pacul (laras Pélog) dan Lir ilir (laras Sléndro).

 

GUNDUL PACUL

Do = C

4/4

Lagu : tradisional

___ __== ___ ___ ___ ___ ___ ___

{ 0 1 { : 3 . 1 3 4 5 5 . 7 | 1(> ) 7 1>( ) 7 5 0 1 :{

Gun dul gun dul pa cul cul gemble le ngan Gun

Wa

____ ____ ____ ____ ____

{ : 3 5 4 4 5 4 | 3 1 4 3 1 0 1 :}

kulglimpangse ga ne da di sak la tar wa

 

 

LIR ILIR

Do = C

2/4

 

Lagu : Tradisional

____ ____ ____ ____ ____ ____ ____ ____

{ 0 1> 1> { : 2> ( ) 3> 1> 1> | 2(> )) 3> 1> 1> | 5 5 1> 1> | 6 5 5 |

Lir i Lir Lir i Lir tan du rewong su mi lir tak i

 

____ ____ ____ ____ ____ ____ ____

| 5 5 1> 1> | 6 6 3 6 | 5 3 2 3 | 1 1> 1> :}

jo ro yo ro yo taksengguh penganten a nyar

 

Nada dalam skala dengan dua sruti yang berbeda, dilambangkan dengan L dan S, adalah: gulu=S, dada=L, pelog=S, lima=S, nem=S, barang=L, bem=S, gulu=S. Dalam hal ini, S adalah sekitar 110-150 cent dan L adalah sekitar 250-300 cent.

Disamping itu, khusus untuk karawitan vokal (tembang) menggunakan laras barang miring. Bakunya laras barang miring adalah laras sléndro, akan tetapi pada vokal (tembang) dan gesekan rebab menggunakan nada-nada yang miring/minir (dinaikkan setengah nada dari nada sléndro). Sehingga apabila terdengar tembangnya saja rasanya seperti laras pélog.

Jenis-jenis Gamelan :

1.      Gamelan Bali

2.      Gamelan Banyuwangi

3.      Gamelan Sunda

4.      Gambang Kromong

5.      Gamelan Banjar

6.      Gamelan Jawa

1.Gamelan Bali

Menurut jamannya, Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:

a) Gamelan Wayah

b) Gamelan Madya

c) Gamelan Anyar

 

Berikut ini merupakan gambar instrumen-instrumen dari gamelan Bali.

ANGKLUNG

BABENDE

 

 

 

 

 

CENGCENG

GANGSA KANTILAN

GANGSA PAMADE

 

 

 

 

 

 

GENDER

 

GENDER

 

GENTORAG

 

 

 

GENGGONG

GONG PULU / GUNTANG

 

 

 

 

GONG

JEGOGAN

 

 

 

 

GONG BERI

KAJAR

 

 

 

 

 

KANTILAN

KEMONG

KEMPLI

 

 

 

 

 

 

 

 

KENDANG

 

 

 

 

 

 

KEMPUR

KETUK

KUWIR

 

 

 

 

 

 

PAMADE

REBAB

 

 

 

 

 

 

REBANA

REONG

REONG

 

 

 

 

 

 

 

 

RICIK

SULING

TAWA TAWA / KLENANG

 

 

 

 

 

 

 

UGAL / GIYING

TINGKLIK

TROMPONG

 

 

 

 

 

 

2. Gamelan Banyuwangi

Gamelan Banyuwangi, adalah sebuah bentuk seni gamelan yang berasal dari daerah Blambangan atau Banyuwangi Jawa Timur.

Bentuk gamelan ini sungguh khas karena meskipun sebenarnya masih merupakan bagian dari budaya Jawa, namun banyak sekali memperlihatkan pengaruh Bali, yang terletak hanya beberapa kilometer di seberang laut.

Berbeda dengan gamelan gaya Madura atau gaya Jawa, gamelan Banyuwangi iramanya cepat dan suaranya keras. Sekilas layaknya memang mirip sekali dengan gamelan Bali.

3. Gamelan Sunda / Gamelan Degung

Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat.

Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat. Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng. Laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan degung triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).

Sejarah

Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya ‘Toonkunst van Java’ (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).

Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.

Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata "ngadeg" (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata "De gong" (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “pencon-pencon yang digantung”.

Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (17911828).

Perkembangan

Dulu gamelan degung hanya ditabuh secara gendingan (instrumental). Bupati Cianjur RT. Wiranatakusumah V (19121920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena membuat suasana kurang serius (rucah). Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung, maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa bersama nayaganya, dipimpin oleh Idi. Sejak itu gamelan degung yang bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya.

Melihat dan mendengarkan keindahan degung, salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang, Anang Thayib, merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya. Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Oleh karena itu dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diijinkan menggunakan degung dalam hajatannya, dan diijinkannya. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan) umum. Permohonan semacam itu semakin banyak, maka bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi, dan terwujud degung baru yang dinamakan Purbasasaka, dipimpin oleh Oyo.

Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas koromong (bonang) 13 penclon, cempres (saron panjang) 11 wilah, degung (jenglong) 6 penclon, dan goong satu buah. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal, misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. Gamelan degung kabupaten Bandung, bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut. Sebelumnya, tahun 1918, Rd. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen dengan musik degung, yang dipentaskan di Medan. Tahun 1926 degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng oleh L. Heuveldrop dan G. Kruger produksi Java Film Company, Bandung. Karya lainnya yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M. Idris Sastraprawira dan Rd. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931.

Setelah Idi meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat. Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. Tarya, Ono Sukarna, dan E. Tjarmedi. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada, mereka menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa. Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda, sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat.

Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Selanjutnya E. Tjarmedi dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit (sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Rahmat Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. Selain itu, seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata, degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo).

Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam degung. Tetapi hal ini tidak berkembang. Tahun 1961 RS. Darya Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang, saron, dan rebab. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana. Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan. Dari rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro pelog, misalnya lagu Paksi Tuwung, Kembang Kapas, dsb. Pada tahun 1964, Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan salendro (dwi swara). Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. Dibanding degung yang ada pada waktu itu, surupannya lebih tinggi. Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R. Machyar. Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana.

Tahun 19701980-an semakin banyak yang menggarap degung, misalnya Nano S. dengan grup Gentra Madya (1976), lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan Euis Komariah, degung Gapura pimpinan Kustyara, dan degung gaya Ujang Suryana (Pakutandang, Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas. Tak kalah penting adalah Nano S. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya. Nano S. membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri. Beberapa lagu degung karya Nano S. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran, di antaranya Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984) dan Kalangkang yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986). Lagu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987.

Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an) dimana para penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden; ronggeng), para penyanyi degung sekarang (sejak 1970-an) kebanyakan berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran), baik pria maupun wanita. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya Euis Komariah, Ida Widawati, Teti Afienti, Mamah Dasimah, Barman Syahyana, Didin S. Badjuri, Yus Wiradiredja, Tati Saleh dan sebagainya.

Lagu-lagu degung di antaranya: Palwa, Palsiun, Bima Mobos (Sancang), Sang Bango, Kinteul Bueuk, Pajajaran, Catrik, Lalayaran, Jipang Lontang, Sangkuratu, Karang Ulun, Karangmantri, Ladrak, Ujung Laut, Manintin, Beber Layar, Kadewan, Padayungan, dsb. Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: Samar-samar, Kembang Ligar, Surat Ondangan, Hariring Bandung, Tepang Asih, Kalangkang, Rumaos, Bentang Kuring, dsb.

4. Gambang kromong

Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan Gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon).

Orkes Gambang Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Cina. Secara fisik unsur Cina tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya.

Disamping lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Persi, Balo-balo, Lenggang-lenggang Kangkung, Onde-onde, Gelatik Ngunguk dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Cina, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Citnosa, Macuntay, Gutaypan dan sebagainya.

Instrument gambang kromong antara lain :

Gambang

Kromong

Penyanyi

Kendang dan Kemong

 

Krecek

Gong

 

Suling

Kongahyan

Tehyan

Sukong

 

5. Gamelan Banjar

Seperangkat Gamelan Banjar versi Rakyatan koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Gamelan Banjar adalah seni karawitan dengan peralatan musik gamelan yang berkembang di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Gamelan Banjar yang ada di Kalsel ada 2 versi yaitu :

a) Gamelan Banjar versi keraton

Gamelan Banjar versi keraton, perangkat instrumennya :

1.      babun

2.      gendang dua

3.      rebab

4.      gambang

5.      selentem

6.      ketuk

7.      dawu

8.      sarun 1

9.      sarun 2

10.  sarun 3

11.  seruling

12.  kanung

13.  kangsi

14.  gong besar

15.  gong kecil

b) Gamelan Banjar versi rakyatan

Gamelan Banjar versi rakyatan, perangkat instrumennya :

1.      babun

2.      dawu

3.      sarun

4.      sarantam

5.      kanung

6.      kangsi

7.      gong besar

8.      gong kecil

Perkembangan

Dalam perkembangannya musik gamelan Banjar versi keraton semakin punah. Sementara musik Gamelan Banjar versi rakyatan hingga saat ini masin eksis.

Sejarah

Gamelan Banjar keberadaannya sudah ada sejak jaman Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14 yang dibawa oleh Pangeran Suryanata ke Kalimantan Selatan bersamaan dengan kesenian Wayang Kulit Banjar dan senjata keris sebagai hadiah kerajaan Majapahit. Pada masa itu masyarakat Kalsel pada waktu itu dianjurkan untuk meniru budaya Jawa.

Pasca runtuhnya Kerajaan Negara Daha (1526), ada beberapa pemuka adat yang mengajarkan seni gamelan dan seni lainnya kepada masyarakat yaitu :

1.      Datu Taruna sebagai penggamelan

2.      Datu Taya sebagai dalang wayang kulit

3.      Datu Putih sebagai penari topeng

Masa Pangeran Hidayatullah, penabuh-penabuh gamelan disuruh belajar menabuh gamelan di keraton Solo. Dalam hal itu hingga sekarang, baik pukulan dan lainnya menjadi panutan gamelan Gusti-gustian, terutama sekali pukulan yang hanya ditambah dua kali akhir gong.

Selain itu, tidak ditemukan lagi gamelan yang lengkap seperti Simanggu Besar dan Simanggu Kecil, namun yang dikenal hanya lagu : ayakan, perangan, geol, mas mirah dan perang alun.

Kaliningan Hulu Sungai

Di daerah Hulu Sungai group yang dipimpin Utuh Aini menguasai rumpun Kaliningan yang awalnya dikembangkan Dalang Tulur, Dalang Asra, Sarbaini, Busrajuddin dan Aci. Karena Kaliningan Hulu Sungai bersifat praktis cukup ditabuh hanya 8 orang. Gamelan tersebut terdiri dari :

1.      2 buah sarun

2.      1 buah sarantam

3.      1 buah kanung

4.      1 buah katuk

5.      1 buah kangsi

6.      1 buah babun

7.      gong besar

8.      gong kecil

6. Gamelan Jawa

Pada umumnya Gamelan Jawa terdiri atas instrumen sebagai beikut:

·         Kendang

·         Bonang

·         Saron dan Demung

·         Kenong & Kethuk

·         Keprak dan kepyak

·         Gender

·         Gong

·         Slenthem

·         Kethuk Kempyang

·         Gambang

·         Rebab

·         Siter

·         Suling

 

1. Kendang

Kendhang Ageng

 

Kendhang Ciblon

 

Kendhang Wayang

Kendhang adalah instrumen dalam gamelan Jawa yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.

2.      Bonang

Bonang adalah salah satu instrumen gamelan yang bertugas dibagian lagu. Cara Menabuhnya adalah dengan cara di pukul dengan dua bindhi pada bagian pencu/pencon-nya. Instrumen Bonang ada tiga macam, yaitu:

a.       Bonang Barung (ukuran sedang)

Biasanya bonang barung dimainkan sebagai penguasaan ketukan awal/ pembukaan patokan tempo, juga patokan dinamika.

b.      Bonang penerus (ukurannya lebih kecil)

Bonang penerus dibunyikan setengah ketuk dari bonang barung. Sehingga apabila dibunyikan bersamaan, akan menimbulkan efek suara bersahutan. Jumlah kepigannya sama dengan bonang barung, tetapi notasinya satu oktaf lebih tinggi.

c.       Bonang penembung (ukurannya lebih besar dari bonang barung)

Pencon-pencon bonang ditata berjajar dalam dua baris. Baris atas biasa disebut Jaleran atau Brunjung, sedangkan yang bawah disebut setren atau dhempok.

3.      Saron dan Demung

Saron dan Demung saling berhubungan akrab. Lempengannya terbuat dari tembaga yang tipis dan dibawahnya terdapat rongga bambu yang difungsikan sebagai penentu nada apabila alat tersebut dipukul.

Tugas saron dan Demung dalam karawitan adalah untuk membunyikan lagu (melodi) pokok. Kelompok instrumen Saron dan Demung sering disebut balungan. Cara membunyikan Instrumen saron ini adalah dengan dipukul satu tangan menggunakan pemukul yang disebut gandhen (seperti palu atau godam).

Menurut ukuran dan fungsinya, terdapat tiga jenis saran:

- Demung,

- Saron barung, dan

- Saron panerus atau peking.

 

~ DEMUNG

Saron berukuran besar dan beroktaf tengah. Demung memainkan balungan gendhing dalam wilayahnya yang terbatas. Pada teknik pinjalan, dua demung dan slenthem membentuk lagu jalin-menjalin. Umumnya, satu perangkat gamelan mempunyai satu atau dua demung. Tetapi ada gamelan di kraton yang mempunyai lebih dari dua demung.

~ SARON BARUNG

Saron berukuran sedang dan beroktaf tinggi. Seperti demung, saron barung memainkan balungan dalam wilayahnya yang terbatas. Pada teknik tabuhan imbal-imbalan, dua saron barung memainkan lagu jalin menjalin yang bertempo cepat. Seperangkat gamelan mempunyai satu atau dua saran barung, tetapi ada gamelan yang mempunyai lebih dan dua saron barung. Suatu perangkat gamelan bisa mempunyai saron wayangan yang berbilah sembilan. Sebagaimana namanya menunjukkan, saron ini dimainkan khususnya untuk ansambel mengiringi pertunjukan wayang.

~ SARON PANERUS (PEKING)

Saron yang paling kecil dan beroktaf paling tinggi. Saron panerus atau peking ini memainkan tabuhan rangkap dua atau rangkap empat lagu balungan. Lagu peking juga berusaha menguraikan lagu balungan dalam konteks lagu gendhing.

Saron Barung

Saron Demung

 

Saron Penerus

Saron Wayang

 

4.      Kenong & Kethuk

Instrumen Kethuk

Instrumen Kenong

Kenong dan Kethuk merupakan instrumen gamelan yang berbentuk pencon-pencon besar seperti pencon bonang bagian atas. Instrumen kethuk cara memainkannya ditabuh menggunakan bindhi dengan satu tangan. Sedangkan Kenong menggunakan dua buah bindhi dengan dua tangan. Fungsi Kenong dan Kethuk pada gamelan adalah sebagai pemangku irama dan pembatas kalimat dalam suatu gendhing.

Dalam instrumen gamelan lengkap, disamping adanya kenong terdapat pula kenong japan. Kenong japan ini bentuknya lebih besar dari kenong biasa dan nadanya sama dengan nada 5 ageng dari bonang panembung. Kenong Japan biasanya dipergunakan untuk gendhing gangsaran dan gendhing alit.

Kenong Japan

 

5.      Keprak dan Kepyak

Keprak

Keprak terutama dipergunakan pada jenis karawitan untuk iringantari klasik dan kethoprak. Fungsi instrumen ini adalah sebagai pamurba irama untuk memberi tanda-tanda tertentu pada kendhangkaitannya dengan tempo, dinamik, ritme dan suwuking gendhing.

Sedangkan Kepyak adalah insturmen gamelan jawa yang berbentuk lempengan-lempengan logam segi empat kecil yang biasanya dipergunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Biasanya membunyikannya dengan telapak kaki dalang.

6.      Gender

Gender Barung

Gemder Penerus

Dua macam gender, gender barung dan gender penerus adalah instrumen yang bentuknya seperti slenthem akan tetapi nada-nadanya lebih banyak sehingga bentuknya nampak lebih panjang. Instrumen ini bertugas sebagai pemangku lagu (pamurba lagu apabila tidak ada rebab), meneruskan wiled rebab dengan wiled khusus yang remit.

Dalam karawitan Jawa, baik gender barung maupun gender penerus terdiri dari tiga rancak, yaitu gender laras slendro, gender laras pelog bem, dan gender laras pelog barang. Cara menabuh instrumen ini adalah dengan dipukul menggunakan bendha (ukurannya lebih kecil dari tabuh slenthem) yang dipenggang pada dua tangan.

7.      Kempul dan Gong

Kempul

 

Kempul merupakan instrumen gamelan yang bertugas pada bagian irama. Bentuknya seperti pencon bonang barung bagian bawah yang bergantung pada gayor, akan tetapi ukurannya besar-besar. Pada perangkat gamelan yang lengkap, biasanya laras pelog dan laras slendro mempunyai kempul tersendiri. Nada-nada kempil sesuai dengan nada-nada saron. Cara memainkan instrumen ini adalah dengan cara dipukul menggunakan bendha (sejenis bindhi yang berbentuk bulat)

 

Instrumen Gong

Sedangkan untuk Gong berfungsi sebagai finalis lagu. Bentuk gong sama persis dengan bentuk kempul, hanya saja ukurannya lebih besar. Gong yang ukurannya sedikit lebih besar dinamakan suwukan. Sedangkan yang paling besar dinamakan gong ageng.

Instrumen Gong Ageng

 

8.      Slenthem

Intrumen Slenthem

 

Menurut konstruksinya, slenthem termasuk keluarga gender, namun kadang-kadang ia dinamakan gender panembung. Tetapi slenthem mempunyai bilah sebanyak bilah saron. Ia beroktaf paling rendah dalam kelompok instrumen saron. Seperti demung dan saron barung, slenthem memainkan lagu balungan dalam wilayahnya yang terbatas.

9.      Kethuk Kempyang

Kethuk Kempyang

 

Dua instrumen jenis gong berposisi horisontal ditumpangkan pada tali yang ditegangkan pada bingkai kayu. Kethuk - kempyang memberi aksen-aksen alur lagu gendhing menjadi kalimat kalimat yang pendek.

Pada gaya tabuhan cepat lancaran, sampak, srepegan, dan ayak ayakan, kethuk ditabuh di antara ketukan ketukan balungan, menghasilkan pola-pola jalin-menjalin yang cepat.

10.  Gambang

Instrumen Gambang

 

Instrumen dibuat dari bilah - bilah kayu dibingkai pada gerobogan yang juga berfungsi sebagai resonator. Berbilah tujuh-belas sampai dua-puluh bilah, wilayah gambang mencakup dua oktaf atau lebih. Gambang dimainkan dengan tabuh berbentuk bundar dengan tangkai panjang biasanya dari tanduk/sungu.

Kebanyakan gambang memainkan gembyangan (oktaf) dalam gaya pola pola lagu dengan ketukan ajeg. Gambang juga dapat memainkan beberapa macam ornamentasi lagu dan ritme, seperti permainan dua nada dipisahkan oleh dua bilah, atau permainan dua nada dipisahkan oleh enam bilah, dan pola lagu dengan ritme - ritme sinkopasi.

11.  Rebab

Instrumen Rebab

Rebab adalah Instrumen kawat-gesek dengan dua kawat ditegangkan pada selajur kayu dengan badan berbentuk hati ditutup dengan membran (kulit tipis) dari babad sapi. Sebagai salah satu dari instrumen pemuka, rebab diakui sebagai pemimpin lagu dalam ansambel, terutama dalam gaya tabuhan lirih.

Pada kebanyakan gendhing-gendhing, rebab memainkan lagu pembuka gendhing, menentukan gendhing, laras, dan pathet yang akan dimainkan. Wilayah nada rebab mencakup luas wilayah gendhing apa saja. Maka alur lagu rebab memberi petunjuk yang jelas jalan alur lagu gendhing. Pada kebanyakan gendhing, rebab juga memberi tuntunan musikal kepada ansambel untuk beralih dari seksi yang satu ke yang lain.

12.  Siter dan celempung

Instrumen Siter

Instrumen Celempung

 

 

Instrumen Siter

 

Instrumen Celempung

Siter dan celempung adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa. Ada hubungannya juga dengan kecapi di gamelan Sunda.

Siter dan celempung masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya satu senar disetel nada pelog dan senar lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika dimainkan, sedangkan celempung panjangnya kira-kira 90 cm dan memiliki empat kaki, serta disetel satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung dimainkan sebagai salah satu dari alat musik yang dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen yang memainkan cengkok (pola melodik berdasarkan balungan). Baik siter maupun celempung dimainkan dengan kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat).

Nama "siter" berasal dari Bahasa Belanda "citer", yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris "zither". "Celempung" berkaitan dengan bentuk musikal Sunda celempungan.

Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari tangan kiri berada di atas senar.

Siter dan celempung dengan berbagai ukuran adalah instrumen khas Gamelan Siteran, meskipun juga dipakai dalam berbagai jenis gamelan lain.

13.Suling

Instrumen Suling

 

Suling bambu yang memainkan lagunya dalam pola-pola lagu bergaya bebas metris. Ini dimainkan secara bergantian, biasanya pada waktu lagunya mendekati akhiran kalimat. Tetapi kadang - kadang pemain suling juga memainkan lagu lagu pendek di permulaan atau di tengah kalimat lagu.

Seperangkat Gamelan Jawa “Kyai Gandrung”

Berdasarkan pengetahuan tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan terhadap ciri-ciri musik tradisional Indonesia. Antara lain:

·         Ide musik tradisi disampaikan tidak melalui tulisan berupa notasi atau partitur, tetapi secara lisan.

·         Musik tradisi diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi

·         Syair lagu musik berbahasa daerah. Selain itu, alunan melodi dan iramanya juga menunjukkan ciri khas kedaerahannya.

·         Musik tradisi melibatkan alat-alat musik daerah dalam komposisinya.

·         Musik tradisi umumnya merupakan bagian dari upacara ritual kebudayaan masyaralatnya.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Musik Tradisional

Berdasarkan uraian tentang musik dan alat musik tradisional Nusantara, dapat digali nilai-nilai yang terkandung dalam musik tradisional Nusantara, antara lain:

·         Nilai-nilai budaya daerah setempat.

Nilai-nilai ini bersifat lokal , tidak nasional atau universal. Sebagai contoh musik angklung yang menjadi musik pengiring pada saat pesta panen.

·         Nilai-nilai spiritual atau sakral,

Seperti dalam upacara adat, syukuran, perkawinan, dan kematian. Sebagai contoh musik vokal Kagombe di Sulawesi Tenggara biasa dipakai dalam upacara penyembuhan seseorang yang terkena penyakit cacar.

·         Nilai etis yang berupa pesan moral.

Pesan moral disampaikan melalui musik agar anggota masyarakatnya tidak berbuat jahat yang mendatangkan musibah, agar masyarakat menghormati orangtuanya, dan sebagainya.

·         Nilai estetis.

Musik tradisi umumnya dipertunjukkan bagi masyarakat, sehingga mereka mendapatkan kesenangan.

·         Nilai komersil.

Sebagai contoh, selain sebagai hiburan, musik tradisi dibeberapa daerah juga bernilai komersil. Mereka menerima panggilan pentas dengan harga tertentu.

·         Nilai untuk mempertahankan pola-pola / adat lama yang sudah sudah ada.

Musik tradisi juga dipakai sebagai penjaga tradisi kultur dan tradisi musik itu sendiri dari berbagai pengaruh luar. Dibeberapa daerah di Indonesia, suatu upacara ritual tidak dapat dilaksanakan tanpa musik tradisinya. Musik tradisi ini tidak dapat diganti dengan musik lainnya. Selain itu, musik tradisi juga dijadikan identitas masyarakatnya. Sebagai contoh, musik gamelan adalah identitas kultur masyarakat Jawa. Demikian juga musik sasando sebagai identitas kultur masyarakat Rote, NTT.

Secara umum, fungsi musik tradisional antara lain sebagai sarana atau media upacara ritual, media komunikasi, pengiring tari dan sarana ekonomi.

Sarana upacara budaya (ritual)

Musik tradisional di indonesia pada umumnya berkaitan erat dengan upacara-upacara ritual masyarakatnya, seperti upacara kematian, perkawinan, kelahiran hingga dalam upacara-upacara keagamaan dan kenegaraan. Bahkan dibeberapa daerah, bunyi-bunyian yang dihasilkan dari instrumen atau alat-alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen-instrumen tersebut digunakan sebagai sarana kegiatan adat masyarakat.

Sarana hiburan

Musik di Indonesia juga memiliki sarana hiburan bagi masyarakatnya. Dalam hal ini, musik berfungsi sebagai cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, sekaligus sebagai sarana rekreasi dan pertemuan dengan warga masyarakat lainnya. Umumnya masyarakat daerah di Indonesia sangat antusias menonton berbagai pagelaran, termasuk pagelaran musik.

Saat ini dengan perkembangan media elektronik, kebutuhan masyarakat terhadap hiburan menjadi semakin mudah diperoleh dan dinikmati. Mereka hanya perlu membeli media-media tersebut dan menikmatinya dirumah.

Sarana komunikasi

Dalam masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, terdapat bunyi-bunyian yang memiliki arti tertentu bagi warganya. Umumnya, bunyi-bunyian ini memiliki pola ritme tertentu dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan.

Saran pengiring tari

Diberbagai daerah di Indonesia, permainan musik atau musik yang diciptakan banyak digunakan untuk mengiringi tarian-tarian daerah. Oleh karena itu, kebanyakan tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi oleh musik daerahnya sendiri.

Sarana ekonomi

Bagi para pemain musik tradisional, musik dapat untuk menjadi mata pencaharian tambahan. Seperti dalam upacara-upacara yang mengundang pemain musik dengan memberikan patokan tarif tertentu.

 

 

 

 

~ * ~

 

 

 

 

Daftar Pustaka:

Kodijat, Latifah. 1983. Istilah-Istilah Musik. Jakarta : Djambatan.

Mawardi, Muh, dkk. 1993. Tuntunan Sekar Macapat jilid 1 dan 2. Semarang : Tiga Serangkai.

Edmund Prier, Karl. 1993. Sejarah Musik Jilid 1. Yogyakarta : Pusat Musik Liturgi.

Dahlan, M, dkk. 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah. Surabaya : Target Press.

Hernawan, Dedi. 2003. Pengantar Karawitan Sunda. Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Seni Tradisional (P4ST) Universitas Pendidikan Indonesia.

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta : Kanisius.

Kusnadi. 2004. Diktat Karawitan Dasar. Yogyakarta : Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Hardjana, Suka. 2004. Esai dan Kritik Musik. Yogyakarta : Galang Press.

Hardjana, Suka. 2004. MUSIK : antara Kritik dan Apresiasi. Jakarta : KOMPAS Press.

Ali, Matius. 2006. Seni Musik SMA untuk kelas XI dan XII. Jakarta : ESIS Erlangga.

Rangkuti, RE. 2006. Cinta Nusantara, Mengenal Lagu Daerah. Jakarta : Refira.

Internet dengan situs:

- http://id.wikipedia.org/

- http://www.babadbali.com/

- http://dwpptrijenewa.isuisse.com/bulletin/?p=1064

- http://ki-demang.com/

- http://www.sekarjagad.net/