http://www.sman1pramb-yog.sch.id/
|
MATERI AJAR |
|
Sekolah : SMAN 1
Prambanan Mata
Pelajaran : Seni Musik Kelas
/ Program : XI / IPA – IPS Semester
: I (Satu) |
|
Standar Kompetensi :
1. Mengapresiasi Karya Seni Musik. Kompetensi Dasar :
1.1. Mengidentifikasi makna dan peranan musik tradisional Nusantara dalam
konteks kehidupan budaya masyarakat. - Mengidentifikasi karya musik tradisional
Nusantara. - Mendeskripsikan makna musik tradisional
Nusantara dalam konteks kehidupan budaya masyarakatnya. - Mendeskripsikan peranan musik tradisional
Nusantara dalam konteks kehidupan budaya masyarakatnya. 1.2. Menunjukkan nilai-nilai dari pengalaman
musikal yang terkandung pada musik tradisional Nusantara. - Mendeskripsikan karakteristik keunikan karya
musik Tradisional Nusantara. - Mendeskripsikan jenis–jenis alat musik
Tradisional Nusantara. - Mendeskripsikan isi lagu tradisional
Nusantara kedalam bahasa 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni
musik 2.1. Mengembangkan gagasan kreatif serta
mengaransir/ merancang karya musik dengan menggali beragam teknik, prosedur,
media, dan materi musik/lagu tradisional Nusantara. - Mendeskripsikan teknik mengaransir /
merancang karya musik Tradisional Nusantara. - Menjelaskan prosedur dan materi yang
digunakan. - Menunjukkan sikap menghargai karya seni
sendiri dan kelompok. 2.2. Menampilkan karya musik yang telah
diaransir di kelas. - Mendeskripsikan bentuk-bentuk penampilan
musik. - Mendeskripsikan teknik-teknik penampilan
musik vocal hasil aransir. - Mendeskripsikan teknik-teknik penampilan
musik instrumental hasil aransir. - Mendemonstrasikan musik vokal dan
instrumental dengan teknik yang benar. |
|
Mengetahui /
Menyetujui, |
|
Prambanan, |
|
Kepala Sekolah SMAN 1 Prambanan Drs Mawardi H. NIP. 130835675 |
|
Guru
Bidang Studi, Alfian
Nur Rahman |
Email: gitar_alfian@yahoo.co.id
|
I. MUSIK
TRADISIONAL NUSANTARA Alat musik tradisional Nusantara dapat dikelompokkan
menjadi 4 jenis sesuai dengan fungsi pengelompokannya, antara lain: ·
Chordophone : Instrumen yang
sumber bunyinya berasal dari dawai. Contoh: Sasando, Siter/Rebab, Celempung,
dll. ·
Aerophone : Instrumen yang
sumber bunyinya berasal dari udara yang di tiup. Contoh: Seruling, Kledi,
dll. ·
Membranophone : Instrumen yang
sumber bunyinya berasal dari kulit membran. Contoh: Kendang, Ketipung, dll ·
Idiophone : Instrumen yang
sumber bunyinya berasal dari alat itu sendiri. Contoh: Gong, Saron, Bonang
dll Berikut ini beberapa nama-nama alat musik
tradisional beserta lagu daerah khas adat kebudayaan Nusantara sesuai dengan
daerahnya:
a. Propinsi Sumatera Utara / Sumut Alat Musik Tradisional : Arumba, Doli-doli, Druri
dana, Faritia, Garantung, Gonrang, Hapetan, Lagu Daerah : Say Selamat
Masineger, Leleng Ma Hupaima Ima, Dago Inang Sarge, Madedek Magambiri, Meriam
Tomong, Sigulempong, Rambadia, Sinanggar Tulo, Piso Surit, dll. b. Propinsi Sumatera Barat / Sumbar Alat Musik Tradisional : Saluang, Talempong Pacik Lagu Daerah : Keparak Tingga, Kambanglah Bungo, Tari
Payung, Rang Talu, Lah Laruik Sanjo, Seringgit Dua Kupang, Bareh Solok,
Kampuang Nan Jauh Dimato, Malam Baiko, Dayuang Palinggam, Gelang Sipaku
Gelang, Tak Tong Tong. c. Propinsi Jawa Barat / Jabar Alat Musik Tradisional :
Arumba, Calung, Dod-dog, Gamelan Sunda, Angklung, Rebab. Lagu Daerah : Cing Cang Keling, Sapu Nyere Pegat
Simpai, Tokecang, Es Lilin, Pepeling, Nenun, Manuk Dadali, Bubuy Bulan. d. Propinsi Jawa Tengah / Jateng dan DI
Yogyakarta Alat Musik Tradisional : Gamelan Jawa, Siter /
Celempung Lagu Daerah : Gundul pacul, Suwe Ora jamu, Tekate
Dipanah, Gek ke Piye, Lir Ilir, Gambang Suling, Pitik tukung. e. Propinsi Bali Alat Musik Tradisional : Gamelan Lagu Daerah : Putri ayu, Ngusak Asik, Janger,
Macepet Cepetan, Tari Bali, Meyong-Meyong f. Propinsi Nusa Tenggara Barat / NTB dan Nusa
Tenggara Timur / NTT Alat Musik Tradisional : Cungklik, Foi Mere,
Sasando, Keloko Lagu Daerah : Pai Mura Rame, Desaku, Tutu Koda,
Helele U Ala de Teang, Potong bebek, Anak Kambing Saya, O Nina Noi, Lereng
Wutun, Bole Lebo, O Re Re, Tebe Ona Na. g. Propinsi Kalimantan Selatan / Kalsel Alat Musik Tradisional : Babun Lagu Daerah : Ampar-Ampar
pisang, Sapu Tangan Babuncu Ampat, Tumpi Wayu, Palu Lempang Pupoi, Cik Cik
Periok. h. Propinsi Sulawesi Selatan / Sulsel Alat Musik Tradisional : Alosu, Anak Becing,
Basi-Basi, Popondi, Keso-Keso, Lembang Lagu Daerah : Tondok
Kadadiangku, Marencong Rencong, Pakarena, Angin Mamiri, Anak Kukang. i. Propinsi Maluku Alat Musik Tradisional : Floit, Nafiri, Totobuang,
Tifa Lagu Daerah : Hela Rotan,
Burung Kakatua, Sarinande, Ayo mama, Rasa Sayange, Naik-Naik Kepuncak Gunung,
Nona Manis Siapa Yang Punya, Waktu Hujan Sore-Sore, Lembe-Lembe, Gunung
Salahutu, Burung Tantina. j. Propinsi Irian Jaya / Papua Alat Musik Tradisional : Atowo, Tifa, Fu Lagu Daerah : Yamko Rambe
Yamko, Apuse. Lain-Lain : -
Gerdek berasal dari daerah Dayak Kalimantan -
Kere-kere galang berasal dari daerah -
Kinu berasal dari daerah Pulau Roti -
Kolintang berasal dari daerah Minahasa -
Sampek berasal dari daerah Dayak Kalimantan -
Talindo berasal dari daerah -
Kecapi berasal dari daerah Seluruh Nusantara Umumnya di Jawa -
Kledi berasal dari daerah -
Serunai berasal dari daerah Sumatera Catatan : Data ini
berdasarkan jaman Musik Gamelan :
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang,
gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok dalam berbagai
jenis ukuran dan bentuk ensembel. Musik gamelan juga disebut sebagai musik
heterofon karena memiliki pola ritme yang kaya. Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu
proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda,
atau Jawa Barat), dan "madenda"
(juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli
yang
banyak dipakai di Eropa. Dari catatan sejarah, tangga nada sléndro lebih tua
daripada tangga nada pélog. Tangga nada sléndro diperkenalkan
pada Dinasti Syailendra sekitar abad 8 M. Menurut cerita, tangga nada sléndro ditemukan oleh Dewa
Batara Endra atas petunjuk Dewa Shiva. Sedangkan pélog, Menurut Ronggo
Warsito diciptakan oleh Prabu Banjaran Sari alias Panji Hino
Kartopati alias Joyoboyo pada tahun 1519 M. Laras sléndro, kadangkala
dieja sebagai saléndro, dalam gamelan disebut Pentatonik enharmonis
karena terdiri 5 nada dalam satu oktaf (gembyangan). Sruti
(interval) setiap nadanya diberi satuan centimeter suara atau sering disebut
cent. Sruti-sruti nadanya adalah 240 cent. Sedangkan untuk interval sempurna keempatnya yang lebih sempit, sekitar 480 cent, berbeda
dengan interval pelog yang lebih
lebar. Kelima nada pada laras sléndro adalah sebagai berikut:
Laras pélog sendiri memiliki
tujuh nada dalam satu gembyangan (oktaf) dan disebut Heptatonis,
tetapi biasanya suatu komposisi akan ditulis dalam 5 nada. Skala pelog dapat
dibuat dengan cara merangkaikan interval sempurna keempat dengan sruti yang cukup lebar, sekitar
515 sampai 535 cent. Ketujuh nada
tersebut dituliskan sebagai berikut:
Kedua laras dalam gamelan Jawa tersebut jika
dituliskan secara tangga nada diatonis adalah sebagai berikut:
Contoh lagu tradisional
umum yang menggunakan laras Sléndro dan Pélog; Gundul Pacul (laras Pélog) dan Lir ilir (laras Sléndro). GUNDUL PACUL
___ __== ___ ___
___ ___ ___ ___ { 0 1 { : 3 . 1 3 4 5 5 . 7 | 1(> ) 7 1>( ) 7 5 0 1 :{ Gun dul gun dul pa cul cul gemble le ngan Gun Wa ____ ____ ____ ____ ____ { : 3 5 4 4
5 4 | 3 1 4 3 1 0 1 :} kulglimpangse
ga ne da di sak la tar wa LIR ILIR
____ ____
____ ____ ____ ____ ____ ____ { 0 1>
1> { : 2> ( ) 3> 1> 1> | 2(> )) 3> 1> 1> | 5 5
1> 1> | 6 5 5 | Lir i Lir Lir i
Lir tan du rewong su mi lir tak i ____ ____
____ ____ ____ ____ ____ | 5 5 1>
1> | 6 6 3 6 | 5 3 2 3 | 1 1> 1> :} jo ro yo ro
yo taksengguh penganten a nyar Nada dalam skala dengan dua sruti yang berbeda,
dilambangkan dengan L dan S, adalah: gulu=S, dada=L, pelog=S,
Disamping itu, khusus untuk karawitan vokal
(tembang) menggunakan laras barang miring. Bakunya laras barang miring
adalah laras sléndro, akan tetapi
pada vokal (tembang) dan gesekan rebab menggunakan nada-nada yang
miring/minir (dinaikkan setengah nada dari nada sléndro). Sehingga apabila terdengar tembangnya saja
rasanya seperti laras pélog. Jenis-jenis Gamelan :
1.Gamelan
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Gambang |
Kromong |
|
Penyanyi
|
Kendang dan Kemong |
|
Krecek |
Gong |
|
Suling |
Kongahyan |
|
Tehyan |
Sukong |
Seperangkat Gamelan Banjar versi
Gamelan Banjar adalah seni karawitan dengan
peralatan musik gamelan yang berkembang di kalangan suku Banjar
di Kalimantan Selatan. Gamelan
Banjar
yang ada di Kalsel ada 2 versi yaitu :
Gamelan Banjar versi keraton, perangkat instrumennya :
|
1.
babun 2.
gendang dua 3.
rebab 4.
gambang 5.
selentem 6.
ketuk 7.
dawu |
8.
sarun 1 9.
sarun 2 10.
sarun 3 11.
seruling 12.
kanung 13.
kangsi 14.
gong besar 15.
gong kecil |
Gamelan Banjar versi rakyatan, perangkat instrumennya :
|
1. babun 2. dawu 3. sarun 4. sarantam |
5. kanung 6. kangsi 7. gong besar 8. gong kecil |
Dalam perkembangannya musik
gamelan Banjar versi keraton semakin punah. Sementara musik Gamelan Banjar
versi rakyatan hingga saat ini masin eksis.
Gamelan Banjar
keberadaannya sudah ada sejak jaman Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14 yang dibawa
oleh Pangeran Suryanata ke Kalimantan Selatan bersamaan dengan kesenian Wayang Kulit Banjar dan senjata keris sebagai
hadiah kerajaan Majapahit. Pada masa itu
masyarakat Kalsel pada waktu itu dianjurkan untuk meniru budaya Jawa.
Pasca runtuhnya Kerajaan Negara Daha (1526), ada beberapa pemuka
adat yang mengajarkan seni gamelan dan seni lainnya kepada masyarakat
yaitu :
1. Datu Taruna
sebagai penggamelan
2. Datu Taya
sebagai dalang wayang kulit
3. Datu Putih
sebagai penari topeng
Masa Pangeran Hidayatullah, penabuh-penabuh gamelan disuruh belajar menabuh
gamelan di keraton Solo. Dalam hal itu hingga sekarang, baik pukulan dan
lainnya menjadi panutan gamelan Gusti-gustian, terutama sekali pukulan yang
hanya ditambah dua kali akhir gong.
Selain itu, tidak ditemukan lagi gamelan yang
lengkap seperti Simanggu Besar dan Simanggu Kecil, namun yang dikenal hanya lagu : ayakan, perangan, geol, mas mirah dan perang
alun.
Di daerah Hulu Sungai group yang dipimpin Utuh Aini menguasai rumpun
Kaliningan yang awalnya dikembangkan Dalang Tulur, Dalang Asra, Sarbaini, Busrajuddin dan Aci. Karena
Kaliningan Hulu Sungai bersifat praktis cukup ditabuh hanya 8 orang. Gamelan
tersebut terdiri dari :
|
1. 2 buah sarun 2. 1 buah
sarantam 3. 1 buah kanung 4. 1 buah katuk |
5.
1 buah kangsi 6.
1 buah babun 7.
gong besar 8.
gong kecil |
Pada umumnya Gamelan Jawa terdiri atas instrumen
sebagai beikut:
|
·
Kendang ·
Bonang ·
Saron dan Demung |
·
Keprak dan kepyak ·
Gender ·
Gong ·
Slenthem ·
Kethuk Kempyang |
·
Gambang ·
Rebab ·
Siter
·
Suling |
|
|
|
|
|
Kendhang Ageng |
||
|
Kendhang Ciblon |
Kendhang Wayang |
|
Kendhang adalah
instrumen dalam gamelan Jawa
yang
salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan
tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendang yang kecil disebut ketipung,
yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu
lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Untuk wayangan
ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.
2.
Bonang
Bonang adalah salah satu
instrumen gamelan yang bertugas dibagian lagu. Cara Menabuhnya adalah dengan
cara di pukul dengan dua bindhi pada bagian pencu/pencon-nya.
Instrumen Bonang ada tiga macam, yaitu:
a.
Bonang Barung (ukuran sedang)

Biasanya bonang barung dimainkan sebagai penguasaan
ketukan awal/ pembukaan patokan tempo, juga patokan dinamika.
b.
Bonang penerus (ukurannya lebih kecil)

Bonang penerus dibunyikan setengah ketuk dari bonang
barung. Sehingga apabila dibunyikan bersamaan, akan menimbulkan efek suara bersahutan.
Jumlah kepigannya sama dengan bonang barung, tetapi notasinya satu oktaf
lebih tinggi.
c.
Bonang penembung (ukurannya lebih besar
dari bonang barung)

Pencon-pencon bonang ditata berjajar dalam dua
baris. Baris atas biasa disebut Jaleran atau Brunjung,
sedangkan yang bawah disebut setren atau dhempok.
Saron dan Demung saling berhubungan akrab.
Lempengannya terbuat dari tembaga yang tipis dan dibawahnya terdapat rongga
bambu yang difungsikan sebagai penentu nada apabila alat tersebut dipukul.
Tugas saron dan Demung
dalam karawitan adalah untuk membunyikan lagu (melodi) pokok. Kelompok
instrumen Saron dan Demung sering disebut balungan. Cara membunyikan
Instrumen saron ini adalah dengan dipukul satu tangan menggunakan pemukul
yang disebut gandhen (seperti palu atau godam).
Menurut ukuran dan
fungsinya, terdapat tiga jenis saran:
- Demung,
- Saron barung, dan
- Saron panerus atau
peking.
~ DEMUNG
Saron berukuran besar dan beroktaf tengah. Demung memainkan balungan
gendhing dalam wilayahnya yang terbatas. Pada teknik pinjalan, dua demung dan
slenthem membentuk lagu jalin-menjalin. Umumnya, satu perangkat gamelan
mempunyai satu atau dua demung. Tetapi ada gamelan di kraton yang mempunyai
lebih dari dua demung.
~ SARON BARUNG
Saron berukuran sedang dan beroktaf tinggi. Seperti demung, saron
barung memainkan balungan dalam wilayahnya yang terbatas. Pada teknik tabuhan
imbal-imbalan, dua saron barung memainkan lagu jalin menjalin yang bertempo
cepat. Seperangkat gamelan mempunyai satu atau dua saran barung, tetapi ada
gamelan yang mempunyai lebih dan dua saron barung. Suatu perangkat gamelan
bisa mempunyai saron wayangan yang berbilah sembilan. Sebagaimana namanya
menunjukkan, saron ini dimainkan khususnya untuk ansambel mengiringi
pertunjukan wayang.
~ SARON PANERUS (
Saron yang paling kecil dan beroktaf paling tinggi. Saron panerus atau
peking ini memainkan tabuhan rangkap dua atau rangkap empat lagu balungan.
Lagu peking juga berusaha menguraikan lagu balungan dalam konteks lagu
gendhing.
|
Saron Barung |
Saron Demung |
|
Saron Penerus |
Saron Wayang |
|
Instrumen Kethuk |
Instrumen Kenong |
Kenong dan Kethuk merupakan instrumen gamelan yang
berbentuk pencon-pencon besar seperti pencon bonang bagian atas. Instrumen
kethuk cara memainkannya ditabuh menggunakan bindhi dengan satu
tangan. Sedangkan Kenong menggunakan dua buah bindhi dengan dua
tangan. Fungsi Kenong dan Kethuk pada gamelan adalah sebagai pemangku irama
dan pembatas kalimat dalam suatu gendhing.
Dalam instrumen gamelan lengkap, disamping adanya
kenong terdapat pula kenong japan. Kenong japan ini bentuknya
lebih besar dari kenong biasa dan nadanya sama dengan nada 5 ageng
dari bonang panembung. Kenong

Kenong
5.
Keprak dan Kepyak

Keprak
Keprak terutama dipergunakan pada jenis karawitan
untuk iringantari klasik dan kethoprak. Fungsi instrumen ini adalah sebagai
pamurba irama untuk memberi tanda-tanda tertentu pada kendhangkaitannya dengan
tempo, dinamik, ritme dan suwuking gendhing.
Sedangkan Kepyak adalah insturmen gamelan jawa yang
berbentuk lempengan-lempengan logam segi empat kecil yang biasanya
dipergunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Biasanya membunyikannya dengan
telapak kaki dalang.
6.
Gender
|
Gender Barung |
Gemder Penerus |
Dua macam gender, gender barung dan gender
penerus adalah instrumen yang bentuknya seperti slenthem akan
tetapi nada-nadanya lebih banyak sehingga bentuknya nampak lebih panjang.
Instrumen ini bertugas sebagai pemangku lagu (pamurba lagu
apabila tidak ada rebab), meneruskan wiled rebab dengan wiled
khusus yang remit.
Dalam
karawitan Jawa, baik gender barung maupun gender penerus
terdiri dari tiga rancak, yaitu gender laras slendro, gender
laras pelog bem, dan gender laras pelog barang. Cara menabuh
instrumen ini adalah dengan dipukul menggunakan bendha (ukurannya
lebih kecil dari tabuh slenthem) yang dipenggang pada dua tangan.
7. Kempul dan Gong

Kempul
Kempul merupakan instrumen gamelan yang bertugas
pada bagian irama. Bentuknya seperti pencon bonang barung bagian bawah yang
bergantung pada gayor, akan tetapi ukurannya besar-besar. Pada
perangkat gamelan yang lengkap, biasanya laras pelog dan laras slendro
mempunyai kempul tersendiri. Nada-nada kempil sesuai dengan nada-nada saron.
Cara memainkan instrumen ini adalah dengan cara dipukul menggunakan bendha
(sejenis bindhi yang berbentuk bulat)

Instrumen Gong
Sedangkan untuk Gong berfungsi sebagai finalis lagu.
Bentuk gong sama persis dengan bentuk kempul, hanya saja ukurannya lebih
besar. Gong yang ukurannya sedikit lebih besar dinamakan suwukan.
Sedangkan yang paling besar dinamakan gong ageng.

Instrumen Gong Ageng
8.
Slenthem

Intrumen Slenthem
Menurut konstruksinya,
slenthem termasuk keluarga gender, namun kadang-kadang ia dinamakan gender
panembung. Tetapi slenthem mempunyai bilah sebanyak bilah saron. Ia beroktaf
paling rendah dalam kelompok instrumen saron. Seperti demung dan saron
barung, slenthem memainkan lagu balungan dalam wilayahnya yang terbatas.
9.
Kethuk Kempyang

Kethuk Kempyang
Dua instrumen jenis gong
berposisi horisontal ditumpangkan pada tali yang ditegangkan pada bingkai
kayu. Kethuk - kempyang memberi aksen-aksen alur lagu gendhing menjadi
kalimat kalimat yang pendek.
Pada
10.
Gambang

Instrumen Gambang
Instrumen dibuat dari bilah
- bilah kayu dibingkai pada gerobogan yang juga berfungsi sebagai resonator.
Berbilah tujuh-belas sampai dua-puluh bilah, wilayah gambang mencakup dua
oktaf atau lebih. Gambang dimainkan dengan tabuh berbentuk bundar dengan
tangkai panjang biasanya dari tanduk/sungu.
Kebanyakan gambang
memainkan gembyangan (oktaf) dalam
11.
Rebab
|
|
|
Instrumen Rebab
Rebab adalah Instrumen
kawat-gesek dengan dua kawat ditegangkan pada selajur kayu dengan badan
berbentuk hati ditutup dengan membran (kulit tipis) dari babad sapi. Sebagai
salah satu dari instrumen pemuka, rebab diakui sebagai pemimpin lagu dalam
ansambel, terutama dalam
Pada kebanyakan gendhing-gendhing, rebab memainkan
lagu pembuka gendhing, menentukan gendhing, laras, dan pathet yang akan
dimainkan. Wilayah nada rebab mencakup luas wilayah gendhing apa saja. Maka
alur lagu rebab memberi petunjuk yang jelas jalan alur lagu gendhing. Pada
kebanyakan gendhing, rebab juga memberi tuntunan musikal kepada ansambel
untuk beralih dari seksi yang satu ke yang lain.
12.
Siter dan celempung
|
Instrumen Siter |
Instrumen Celempung |
|
Instrumen Siter |
Instrumen Celempung |
Siter dan celempung adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa.
Siter dan celempung masing-masing memiliki 11 dan 13
pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya
satu senar disetel nada pelog dan senar
lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar
memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika
dimainkan, sedangkan celempung panjangnya kira-kira 90 cm dan memiliki empat
kaki, serta disetel satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung dimainkan
sebagai salah satu dari alat musik yang dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen yang memainkan cengkok (pola melodik berdasarkan balungan). Baik siter maupun celempung dimainkan dengan
kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat).
Nama "siter" berasal dari Bahasa Belanda
"citer",
yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris "zither". "Celempung"
berkaitan dengan bentuk musikal Sunda celempungan.
Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan
jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini
biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan
untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari
tangan kiri berada di atas senar.
Siter dan celempung dengan berbagai ukuran adalah
instrumen khas Gamelan Siteran, meskipun juga dipakai dalam berbagai jenis
gamelan lain.

Instrumen Suling
Suling bambu yang memainkan lagunya dalam pola-pola
lagu bergaya bebas metris. Ini dimainkan secara bergantian, biasanya pada
waktu lagunya mendekati akhiran kalimat. Tetapi kadang - kadang pemain suling
juga memainkan lagu lagu pendek di permulaan atau di tengah kalimat lagu.

Berdasarkan pengetahuan tersebut diatas, dapat
diambil kesimpulan terhadap ciri-ciri musik tradisional
·
Ide musik tradisi disampaikan tidak melalui tulisan
berupa notasi atau partitur, tetapi secara lisan.
·
Musik tradisi diwariskan secara turun temurun dari
generasi ke generasi
·
Syair lagu musik berbahasa daerah. Selain itu,
alunan melodi dan iramanya juga menunjukkan ciri khas kedaerahannya.
·
Musik tradisi melibatkan alat-alat musik daerah
dalam komposisinya.
·
Musik tradisi umumnya merupakan bagian dari upacara
ritual kebudayaan masyaralatnya.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Musik Tradisional
Berdasarkan uraian tentang musik dan alat musik
tradisional Nusantara, dapat digali nilai-nilai yang terkandung dalam musik
tradisional Nusantara, antara lain:
·
Nilai-nilai budaya daerah setempat.
Nilai-nilai ini bersifat lokal , tidak
nasional atau universal. Sebagai contoh musik angklung yang menjadi musik
pengiring pada saat pesta panen.
·
Nilai-nilai spiritual atau sakral,
Seperti dalam upacara adat, syukuran, perkawinan, dan kematian.
Sebagai contoh musik vokal Kagombe di Sulawesi Tenggara biasa dipakai
dalam upacara penyembuhan seseorang yang terkena penyakit cacar.
·
Nilai etis yang berupa pesan moral.
Pesan moral disampaikan melalui musik agar anggota masyarakatnya tidak
berbuat jahat yang mendatangkan musibah, agar masyarakat menghormati
orangtuanya, dan sebagainya.
·
Nilai estetis.
Musik tradisi umumnya dipertunjukkan bagi masyarakat, sehingga mereka
mendapatkan kesenangan.
·
Nilai komersil.
Sebagai contoh, selain sebagai hiburan, musik tradisi dibeberapa
daerah juga bernilai komersil. Mereka menerima panggilan pentas dengan harga
tertentu.
·
Nilai untuk mempertahankan pola-pola / adat lama yang
sudah sudah ada.
Musik tradisi juga dipakai sebagai penjaga tradisi kultur dan tradisi
musik itu sendiri dari berbagai pengaruh luar. Dibeberapa daerah di
Secara umum, fungsi musik tradisional antara lain
sebagai sarana atau media upacara ritual, media komunikasi, pengiring tari
dan sarana ekonomi.
Sarana upacara budaya (ritual)
Musik tradisional di
Sarana hiburan
Musik di Indonesia juga
memiliki sarana hiburan bagi masyarakatnya. Dalam hal ini, musik berfungsi
sebagai cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, sekaligus
sebagai sarana rekreasi dan pertemuan dengan warga masyarakat lainnya.
Umumnya masyarakat daerah di
Saat ini dengan
perkembangan media elektronik, kebutuhan masyarakat terhadap hiburan menjadi
semakin mudah diperoleh dan dinikmati. Mereka hanya perlu membeli media-media
tersebut dan menikmatinya dirumah.
Sarana komunikasi
Dalam masyarakat di
berbagai daerah di
Saran pengiring tari
Diberbagai daerah di
Sarana ekonomi
Bagi para pemain musik
tradisional, musik dapat untuk menjadi mata pencaharian tambahan. Seperti
dalam upacara-upacara yang mengundang pemain musik dengan memberikan patokan
tarif tertentu.
~ * ~
Daftar Pustaka:
Kodijat, Latifah. 1983. Istilah-Istilah Musik.
Mawardi, Muh, dkk. 1993. Tuntunan Sekar
Macapat jilid 1 dan 2.
Edmund Prier, Karl. 1993. Sejarah Musik Jilid
1.
Dahlan, M, dkk. 2003. Kamus Induk Istilah
Ilmiah.
Hernawan, Dedi. 2003. Pengantar Karawitan
Sunda.
Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik.
Kusnadi. 2004. Diktat Karawitan Dasar.
Hardjana, Suka. 2004. Esai dan Kritik Musik.
Hardjana, Suka. 2004. MUSIK
: antara Kritik dan Apresiasi.
Ali, Matius. 2006. Seni Musik SMA untuk kelas
XI dan XII.
Rangkuti, RE. 2006. Cinta Nusantara, Mengenal
Lagu Daerah.
Internet dengan situs:
- http://dwpptrijenewa.isuisse.com/bulletin/?p=1064